Beranda | Artikel
Peringatan terhadap Penyimpangan Nama-Nama Allah
2 hari lalu

Keutamaan Alhamdulillah adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 11 Dzulqa’dah 1447 H / 28 April 2026 M.

Kajian Tentang Keutamaan Alhamdulillah

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7]: 180)

Fokus utama dalam materi ini adalah peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terkandung dalam kalimat: “Tinggalkanlah orang-orang yang menyalah artikan nama-nama-Nya.” Kalimat tersebut mengandung ancaman bahwa mereka pasti akan diberikan balasan atas perbuatan tersebut. Perintah untuk meninggalkan menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah sesuatu yang menyesatkan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mungkin memerintahkan untuk menjauhi sesuatu kecuali hal itu mengandung kebatilan.

Makna dan Hakikat Ilhad

Secara etimologi, kata ilhad berasal dari alhada-yulhidu yang berarti penyimpangan. Kata ini memiliki akar yang sama dengan lahad (liang lahad), karena posisinya yang menyimpang ke arah samping. Dalam konteks akidah, ilhad bermakna menyimpang dari jalan kebenaran menuju jalan kebatilan (almail anil haq ilal batil).

Penyimpangan terhadap nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti menyimpang dari hakikat dan makna-makna yang benar dari nama tersebut. 

Penyimpangan ini memiliki beberapa macam bentuk yang harus dipahami oleh setiap muslim agar terhindar dari kesalahan dalam bertauhid.

Penyimpangan Pertama: Memberikan nama berhala atau patung dengan nama-nama yang khusus milik Allah Subhanahu wa Ta’ala

Bentuk penyimpangan yang pertama adalah memberikan nama berhala atau patung dengan nama-nama yang khusus milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini dilakukan oleh kaum musyrikin pada zaman dahulu. Sebagai contoh, mereka menamai berhala mereka dengan nama “Al-Lata” yang diambil dari kata “Al-Ilah”.

Salah satu bentuk penyimpangan (ilhad) terhadap nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tindakan kaum musyrikin yang mengambil nama-nama berhala mereka dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menamai “Al-Uzza” yang diambil dari kata “Al-Aziz”, “Manah” dari kata “Al-Mannan”, dan “Sanam” sebagai “Ilah”. Kaum musyrikin menyimpangkan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan memberikan tambahan atau pengurangan untuk menamai tuhan-tuhan dan patung-patung mereka. Ibnu Jarir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut merujuk kepada kaum musyrikin yang menyimpangkan penggunaan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hal yang tidak semestinya.

Penyimpangan Kedua: Memberikan nama kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama yang tidak layak

Bentuk penyimpangan kedua adalah memberikan nama kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama yang tidak layak bagi kemuliaan dan kesempurnaan-Nya. Nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat tauqifiyyah, yang berarti penggunaannya harus menunggu dalil dan sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mengetahui nama-nama bagi diri-Nya sendiri.

Seorang hamba tidak memiliki hak untuk memberi nama kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan keinginan pribadinya. Secara etika, manusia saja tidak suka jika diberi nama secara sembarangan oleh orang lain tanpa persetujuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu jauh lebih berhak atas kesucian nama-Nya.

Banyak kelompok yang terjatuh dalam ilhad dengan memberikan gelar-gelar yang tidak pernah Allah Subhanahu wa Ta’ala gunakan untuk diri-Nya sendiri. Kaum Nasrani, misalnya, menamai Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan “Bapak”, sebuah sebutan yang tidak layak bagi-Nya. Sementara itu, kaum filosof menamai Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan istilah illatul failah.

Sebagian orang bahkan menyebut Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebutan “Insinyur” karena melihat kekaguman pada ciptaan-Nya. Hal ini termasuk penyimpangan. Selain itu, kesalahan sering terjadi dalam pemberian nama anak, seperti menggunakan nama “Abdur Rasyid” atau “Abdul Harit”, padahal “Al-Rasyid” dan “Al-Harit” tidak termasuk dalam nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditetapkan berdasarkan dalil shahih. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Al-Harits merupakan salah satu nama setan atau iblis, sehingga tidak tepat digunakan untuk menamai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penyimpangan Ketiga: Mengosongkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dari makna-maknanya serta mengingkari hakikat yang terkandung di dalamnya.

Macam ketiga dari penyimpangan (ilhad) terhadap nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ta’thil, yaitu mengosongkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dari makna-maknanya serta mengingkari hakikat yang terkandung di dalamnya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa makna ilhad adalah attakzib atau mendustakan. Tidak diragukan lagi bahwa seseorang yang mengingkari makna dan hakikat nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti telah mendustakan nama-nama-Nya dan tergolong melakukan ilhad

Contoh Kekeliruan Pandangan Jahmiyah dan Mu’tazilah

Kelompok Jahmiyah, yang merupakan pengikut Jahm bin Safwan, berpendapat bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah sebatas lafaz kosong yang tidak memiliki makna. Demikian pula dengan pemahaman Mu’tazilah yang meyakini bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengandung sifat sama sekali.

Sebagai contoh, mereka menetapkan nama Al-Qawi (Yang Maha Kuat), namun mereka menolak mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuatan. Menurut pandangan mereka, nama tersebut hanyalah sebutan tanpa makna dan tanpa sifat. Hal yang sama berlaku pada nama Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang); mereka menetapkan nama tersebut namun menolak sifat rahmat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kelompok Mu’tazilah menetapkan nama-nama seperti As-Sami (Yang Maha Mendengar), Al-Bashiir (Yang Maha Melihat), Al-Hayyu (Yang Maha Hidup), dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang), tetapi mereka mengingkari sifat mendengar, melihat, hidup, dan rahmat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Kelompok tersebut mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala karena menggunakan kaidah yang batil, yaitu anggapan bahwa menetapkan banyak sifat mengharuskan adanya banyak zat (ta’addudul qudama). Mereka mengira jika Allah memiliki sifat ilmu, kudrat, dan rahmat, maka setiap sifat tersebut berdiri sendiri sehingga tuhan menjadi banyak. Mereka bahkan menyamakan penetapan sifat ini dengan keyakinan trinitas kaum Nasrani.

Pernyataan tersebut keliru karena sifat bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri terpisah dari zatnya. Manusia saja bisa memiliki banyak sifat namun tetap merupakan satu pribadi yang tunggal. Sifat-sifat yang banyak dapat berkumpul pada satu individu tanpa merusak kesatuan zatnya. Sebagai contoh, seseorang bisa memiliki sifat kuat, tampan, pintar, dan rajin secara bersamaan. Jika pada makhluk saja hal tersebut sangat mungkin terjadi, maka pada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu jauh lebih mungkin. Kesulitan sebagian kalangan dalam menerima hal ini disebabkan oleh kerangka berpikir yang keliru dalam memahami hakikat ketuhanan.

Penyimpangan Keempat: Menyamakan Allah dengan Makhluk (Tasbih)

Macam keempat dari penyimpangan (ilhad) terhadap Asmaul Husna adalah menyamakan sifat Allah yang sempurna dan sesuai dengan kemuliaan-Nya dengan sifat makhluk-makhluk-Nya. Contoh penyimpangan berat ini adalah pernyataan bahwa tangan, mata, atau kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala serupa dengan milik manusia. Hal ini jelas bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)

Ayat tersebut menegaskan bahwa pendengaran dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak serupa dengan pendengaran serta penglihatan makhluk. Sering kali manusia terjatuh ke dalam kesalahan ini dengan membayangkan sifat Allah menggunakan imajinasi pikiran. Ketika mendengar bahwa Allah memiliki tangan atau kaki, pikiran manusia cenderung menggambarkan bentuk fisik makhluk.

Setiap bayangan yang muncul di dalam pikiran manusia mengenai bentuk sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala harus ditolak secara tegas. Bayangan tersebut adalah gambaran makhluk dan bukan merupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali. Manusia cenderung membayangkan sesuatu berdasarkan apa yang pernah dilihatnya. Jika seseorang hanya pernah melihat satu jenis bentuk sepanjang hidupnya, ia akan mendasarkan segala bayangannya pada bentuk tersebut.

Ketersesatan kaum muattilah (golongan yang meniadakan sifat) berawal dari keberhasilan mereka membayangkan sifat Allah dengan akal, lalu mereka menyimpulkan bahwa jika Allah memiliki tangan, berarti Dia terdiri dari anggota tubuh yang saling membutuhkan. Karena bayangan tersebut serupa dengan makhluk, mereka kemudian menolaknya dan menganggap hal itu mustahil bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Berbeda dengan golongan tersebut, Ahlus Sunnah wal Jama’ah ketika mendengar berita tentang sifat-sifat Allah seperti tangan langsung mengimani keberadaannya tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Keimanan tersebut dibarengi dengan keyakinan bahwa tangan Allah tidak mungkin serupa dengan tangan makhluk apa pun. 

Menjaga nama-nama tersebut mencakup menjauhi empat macam penyimpangan (ilhad) yang telah disebutkan. Namun, kenyataannya masih banyak kelompok yang terjatuh ke dalam salah satu penyimpangan tersebut. Di lingkungan sekitar, terdapat fenomena sebagian orang yang mengaku beriman kepada 99, namun sifat-Nya hanya 20. Jika sifat Allah hanya dibatasi pada 20, sementara nama-Nya berjumlah 99, hal ini berarti terdapat 79 nama yang dianggap tidak mengandung sifat. Keyakinan semacam ini merupakan bentuk penyimpangan dalam memahami Asmaulhusna.

Mentadaburi Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala

Pembahasan kini memasuki bab ke-26 mengenai pentingnya mentadaburi nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, serta pengaruh besarnya terhadap seorang hamba. Kebutuhan hamba untuk mengenal Penciptanya adalah kebutuhan yang paling primer. Dengan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang hamba akan memahami hakikat dirinya sendiri. 

Semakin seorang hamba mengenal nama dan sifat Allah yang sempurna, serta mensucikanNya dari sifat-sifat yang tidak layak, maka semakin besar pula keinginan hamba tersebut untuk memuji dan bersyukur kepada-Nya. Orang yang mengenal Allah akan memiliki prasangka baik (husnuzan) yang sangat kuat. Ketika ditimpa kesulitan, ia yakin bahwa hal tersebut merupakan kebaikan bagi dirinya. Jalan untuk mencapai derajat mulia ini adalah dengan mentadabburi dan mendalami Asmaul Husna.

Kisah Kecintaan terhadap Surah Al-Ikhlas

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengutus seorang laki-laki sebagai pemimpin pasukan. Dalam tugasnya, laki-laki tersebut selalu mengakhiri bacaan salat di setiap rakaatnya dengan surah Al-Ikhlas.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4)

Sekembalinya pasukan ke Madinah, para sahabat menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau kemudian memerintahkan para sahabat untuk menanyakan alasan di balik perbuatan tersebut. Ketika ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa ia sangat suka membaca surah tersebut karena di dalamnya terkandung sifat-sifat Allah Ar-Rahman. Mendengar alasan tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أخبروه أن الله تعالى يحبه‏

“Kabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang tersebut mencintai surah Al-Ikhlas bukan karena pendeknya ayat, melainkan karena pemahamannya terhadap sifat-sifat kesempurnaan Allah yang terkandung di dalamnya.

Kecintaan Terhadap Sifat-Sifat Allah Ar-Rahman

Surah Al-Ikhlas merupakan surah yang secara khusus menyebutkan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kandungannya secara utuh menjelaskan tentang sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang menunjukkan tauhid dan pengesaan bagi-Nya.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4)

Seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat mencintai surah ini karena kekagumannya terhadap sifat-sifat Allah yang terkandung di dalamnya. Atas dasar kecintaan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang tersebut. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa kecintaan terhadap surah ini menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Hal ini menunjukkan bahwa seorang hamba yang mencintai sifat-sifat Allah, senang mengingat, menyebut, dan berusaha memahami maknanya, telah menempuh jalan besar menuju surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kewajiban Taslim Terhadap Sifat-Sifat Allah

Kewajiban setiap muslim dalam menghadapi sifat-sifat Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadits adalah dengan rida, menerima, dan bersikap taslim (tunduk menyerahkan diri). Ketika Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah beristiwa di atas Arsy atau Allah memiliki dua tangan, maka setiap mukmin harus menerima informasi tersebut tanpa menolak atau mempertanyakannya secara berlebihan. Demikian pula saat hadits mengabarkan bahwa Allah tertawa, maka hal itu harus diimani tanpa perlu membayangkan caranya.

Sikap ini berbeda dengan ahli bid’ah yang menolak sifat-sifat Allah karena ketidak-ridaan akal mereka. Sebagian mereka bahkan menganggap penetapan sifat tersebut tidak masuk akal atau menyamakan Allah dengan makhluk. Padahal, Imam Az-Zuhri rahimahullah yang wafat pada tahun 125 Hijriah pernah menyatakan prinsip penting dalam berakidah:

من الله الرسالة، ومن الرسول البلاغ، وعلينا التسليم

“Risalah berasal dari Allah, kewajiban Rasulullah adalah menyampaikan, dan kewajiban kita adalah bersikap taslim (menerima, rida).” (HR. Bukhari secara mu’allaq)

Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim yang benar-benar mengagungkan Allah untuk menolak atau mengingkari nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tindakan menolak pengabaran dari Allah hanya karena merasa tidak sejalan dengan logika merupakan bentuk pelecehan terhadap wahyu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang mengabarkan sifat-sifat-Nya di dalam Al-Qur’an, salah satunya mengenai dua tangan-Nya.

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“Tetapi kedua tangan Allah terbuka.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 64)

Seorang hamba tidak memiliki otoritas untuk menyatakan ketidakmungkinan atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Kewajiban utama manusia adalah mengimani dan menerima segala sifat kesempurnaan Allah sebagaimana yang Dia kabarkan sendiri dalam Al-Qur’an dan melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setiap muslim wajib mengimani perkara aqidah meskipun terkadang sulit dijangkau oleh akal. Terdapat banyak perkara, seperti azab kubur bagi jasad yang telah hancur atau terbakar, yang tetap harus diyakini sebagai kebenaran alam barzakh. Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, segala sesuatu sangatlah mudah untuk dilakukan.

Penyimpangan terjadi ketika seseorang lebih mengagungkan akal daripada wahyu sehingga tidak rida dan tidak bersikap taslim (pasrah menerima). Padahal, akal manusialah yang memiliki keterbatasan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan sebuah pernyataan mengenai kedudukan akal dalam agama:

لَوْ كَانَ اَلدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ اَلْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ

“Kalaulah agama ini berdasarkan akal saja, tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih layak untuk diusap daripada bagian atasnya.” (HR. Abu Dawud)

Secara logika, bagian bawah sepatu adalah yang menyentuh kotoran, namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam justru mencontohkan untuk mengusap bagian atasnya. Demikian pula dalam perkara wudhu; meskipun seseorang mengeluarkan hadas dari dubur, yang diperintahkan untuk dibasuh adalah wajah, tangan, dan kepala. 

Peringatan Ibnu Abbas terhadap Pengingkar Sifat

Abdur Razzaq meriwayatkan dalam mushannafnya dari Ma’mar, bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah melihat seorang laki-laki yang marah dan menunjukkan pengingkaran ketika mendengar hadits tentang sifat-sifat Allah. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyatakan:

مَا فَرَقُ هَؤُلَاءِ؟ يَجِدُونَ رِقَّةً عِنْدَ مُحْكَمِهِ، وَيَهْلِكُونَ عِنْدَ مُتَشَابِهِهِ

“Apa yang menyebabkan mereka ini merasa takut? Mereka mau menerima saat mendengar ayat-ayat yang muhkam (jelas maknanya), tetapi mereka binasa ketika mendengar ayat-ayat yang mutasyabih (samar bagi akal mereka).” (riwayat asli kisah tersebut dalam Musannaf karya Abd al-Razzaq (no. 20893-20895)

Hal ini membuktikan bahwa hamba harus menerima syariat secara total, baik dalam masalah fiqih maupun akidah, karena keduanya bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits merupakan bagian dari wahyu yang jelas. Seseorang yang mengingkari sifat-sifat tersebut seringkali disebabkan oleh minimnya ilmu dan sikap yang terlalu mendewakan akal. Pengingkaran semacam ini dapat membawa seseorang pada kebinasaan iman.

Menghadapi Kabar Wahyu dengan Adab

Terdapat pihak-pihak yang menolak hadits sahih, seperti hadits tentang Allah yang turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, hanya karena dianggap tidak masuk akal. Mereka berargumen bahwa sepertiga malam selalu ada secara bergantian di berbagai belahan bumi, sehingga mereka menolak kabar tersebut. Padahal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan hal tersebut berdasarkan wahyu.

Kewajiban seorang hamba adalah memiliki adab terhadap wahyu dengan cara mengimani dan menerimanya secara mutlak. Allah ‘Azza wa Jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Setiap muslim harus waspada terhadap jalan orang-orang yang menyimpang dalam memahami nama dan sifat Allah, baik kelompok yang menolak seluruh sifat, menolak sebagian sifat seperti kaum Asy’ariyah dan Maturidiah, maupun kelompok yang menyamakan sifat Allah dengan makhluk-Nya.

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bab ini sangat jelas, yaitu menetapkan semua nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk. Prinsip ini sangat sederhana untuk diikuti: ketika Allah ‘Azza wa Jalla dikabarkan memiliki tangan, setiap mukmin mengimaninya dengan keyakinan bahwa tangan Allah tidak serupa dengan tangan makhluk apa pun. Dengan memegang prinsip ini, seorang hamba akan memiliki akidah yang kokoh tanpa perlu terjebak dalam logika yang berbelit-belit.

Download MP3 Kajian Tentang Keutamaan Alhamdulillah


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56202-peringatan-terhadap-penyimpangan-nama-nama-allah/